Rabu, 28 Maret 2012

Diterbitkan dalam rangka Acara "Haul" Minggu tgl 13 MEI- 2012

  Mengenang Riwayat dan Biografi Raden Aersadan

Jumeneng Bupati nama gelar :

       Bupati Mojokerto Th.1866 - 1894

             Kata Pembuka

Assalamu ‘alaikum Warochmatullahi Wabarakatuh

Segenap pengurus Paguyuban Keluarga Kromodjayan Kanoman di Mojokerto bersama family sedarah beserta yang dimuliakan para pinisepuh  dengan ini memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, serta menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Bupati Mojokerto, untuk beliau Yth. Bapak Haji Mustofa Kamal Pasa SH, beserta jajaran Pemkab Mojokerto, ataupun Pemkot Mojokerto
Tidak lupa pula kepada para Pinisepuh Kota Mojokerto, kadang sutresna Budayawan di Mojokerto  yang telah memberikan perhatian, kepeduliannya dan nasehat dalam melestarikan monumental Mojokerto, khususnya untuk Pesarean “Sentono Asri” atau dikenal Makam Kromodjayan Kanoman Mojokerto, yang terletak di Desa Terusan, Mojokerto.
Bertepatan pula pada Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke 719, pada tanggal 09 Mei 2012, seiring hari tersebut Trah Kromodjayan Kanoman – Mojokerto melakukan serangkaian acara pada hari Minggu Pahing; 21 Jumadil Akhir 1433 H, atau tanggal 13 Mei 2012, yaitu acara ritual seremonial dalam rangka mengenang sejarah dan biografi leluhur Trah Kromodjayan Kanoman – Mojokerto, yaitu untuk beliau Raden Aersadan sebagai Bupati Mojokerto Th1866 – Th.1894, yang juga dapat disebut acara “Haul” ; Keluarga Trah keturunan, bersama ketua Paguyuban KROMODJAYAN KANOMAN adalah  :   



photo R.B. Djojko Apriyanto, SE
Ketua Paguyuban Keluarga Kromodjayan Kanoman - Mojokerto




 photo: HR. Widodo, AS
Wakil Ketua Paguyuban Kromodjoyo Kanoman - Mojokerto 

Sedangkan upacara riutual dipimipin langsung oleh Kyai Djauhari dari Blitar.
Tantangan besar bagi seluruh anggota keluarga Paguyuban Keluarga Kromodjayan Kanoman – Mojokerto  dalam meyelengarakan ritual seremonial tsb. Disinilah curahan ucapan syukur kehadirat Allah S.W.T. dari segenap keluarga sebagai darma baktinya dan curahan sikap rasa cinta dan hormat keluarga kepada leluhur, dan hal ini tidak saja datang dari keluarga namun pula datang dari masyarakat, tokoh, dan ulama di desa Losari Terusan disekitar Pesarean Kromodjayan Mojokerto dengan ketulusan dan ikhlas telah menyertai dan berperan aktif dalam acara mengenang sejarah dan biografi Raden Aersadan atau disebut “Haul”. Acara ini diikuti pula dari para tokoh masyarakat, para alim ulama Mojokerto dan Jombang, sehingga tiada putusnya kami keluarga Trah Kromodjayan mengucapkan rasa terima kasih dan rasa syukur; 

Sebagai Keluarga Trah Kromodjayan Kanoman – Mojokerto, sangatlah bersyukur dengan riwayat leluhur tersebut. yang dapat menjadi suri-tauladan bagi seluruh keturunannya. Oleh karena itu perlu disini mengungkap sedikit bagian silsilah pohon keluarga Raden Aersadan, agar semua putra wayah keturunan memahami kedudukannya sebagai pewaris, disamping membangun semangat silaturochmi dalam keluarga, dengan harapan dapat menjaga nilai-nilai luhur yang susah payah dibangun oleh generasi pendahulu Trah Kromodjayan - Kanoman.
Dan pada akhirnya kami merasa tersanjung dan salud dengan penghargaan yang datang dari family sedarah, dan berbagai pihak / lapisan masyarakat dalam mensukseskan terselenggaranya acara ritual seremonial tsb. 


Semoga Allah SWT, memberikan rahmat dan hidayah dalam upacara ritual / acara seremonial dalam rangka mengenang sejarah atau biografi leluhur Trah Kromodjayan Kanoman – Mojokerto.

Sambutan Ketua Haul  R.Aersadan
Assalamu ‘alaikum Warochmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Allah S.W.T. atas karunia dan bimbingan yang telah diberikan kepada kami dalam mengemban amanah tugas keluarga besar Trah Krmodjayan-Kanoman di Mojokerto, dalam hal pelaksanaan acara ritual seremonial dalam rangka mengenang sejarah atau biografi leluhur Trah Kromodjayan Kanoman – Mojokerto, atau biasa disebut sebagai acara “Haul”
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pinisepuh Kromodjayan, para family sedarah, para kerabat dan masyarakat Mojokerto, maupun para pemuka masyarakat dan para alim ulama di Mojoketo pada umumnya, dan khususnya Bapak Bupati Mojokerto, untuk beliau Bapak Haji Mustofa Kamal Pasa SH, beserta jajaran Pemkab Mojokerto, ataupun Pemkot Mojokerto.; yang telah berkenan memberikan dukungan.
    Hal merupakan suatu moment yang tidak ternilai harganya bagi keluarga Trah Kromodjayan dalam acara tsb. Karena itu pula acara sakral seremonial ini sangat bermakna bagi masyarakat Mojokerto, yang telah dapat menghargai biografi beliau sebagai pendahulu para pemangku pemerintahan Kabupaten Mojokerto dalam rangkaian acara memperingati HUT Kabupaten Mojokerto dan sekaligus bagi Pemerintah sebagai satu medium komuikasi yang lebih efektif, dalam mengungkap cinta dan hormat kepada pendahulu Kota Mojokerto.
Mengapa Upacara diselenggarakan, karena Trah kromodjayan percaya dalam mengenang sejarah dan biografi Raden Aersadan merupaan upaya mengungkap kembali sejarah Kota Mojokerto sebagai sajian kilas balik, yaitu rekaman visual yang paling realistis dan untuk mudah dipahami oleh masyarakat, dengan harapan dampaknya dapat menimbulkan rasa cinta, bangga dan sekaligus rasa memiliki kota Mojokerto dan sejarah leluhur, betapa tidak bahwa riwayat pemerintahan di Mojokerto sejak dahulu kala mengandung cita-cita luhur, karena akan mengikis habis pikiran / image penguasa yang berjiwa feodal, sebab Almarhum Raden Aersadan sebagai Bupati pendahulu telah berkarya nyata demi kemakmuran rakyat dan syiar agama.
Berdasar pemikiran inilah kami keluarga Trah Kromodjayan menyampaikan keinginan kepada Bapak Bupati Mustofa Kamal Pasa SH, untuk menyelenggarakan acara seremonial mengenang sejarah atau biografi leluhur Trah Kromodjayan Kanoman – Mojokerto. Disela-sela kesibukan yang luar biasa Bapak Bupati ternyata telah merestui dan sealigus menjadi pelindung acara tersebut.
Acara mengenang sejarah dan biografi Raden Aersadan bertajuk “Haul” bertujuan untuk menyampaian risalah sejarah kehidupan seorang anak bangsa dijaman Hindia Belanda. Dalam kedudukannya pemegang jabatan sebagai Adipati dengan gelar Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro III. Telah tercatat/terukir darma bakti, pikiran dan tenaga beliau yang tercurahkan untuk kepentingan rakyat, berawal sejak usia muda telah menaruh perhatian cukup besar terhadap masalah pengairan dan bangunan dam/saluran air, Yaitu sejak magang menjadi pegawai ikut serta dalam perencanan pengairan dam / saluran irigas di Surabaya, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Jombang dan Lamongan. Peninggalan bangunan tersebut saat ini masih dapat dilihat dan dirasakan manfaatnya, yaitu untuk keperluan pengaturan irigasi persawahan dan perkotaan. Dilandasi pula tingginya keimanan dan taqwa kepada Allah S.W.T. bahwa Raden Aersadan di ketiga kota yaitu Lamongan, Mojokerto dan Jombang (yang tercatat/diketahui) mewakafkan tanah untuk mendirian bangunan Masjid, Inilah sedekah beliau kepada masyarakat dalam bentuk tempat ibadah. Dari riwayat beliau tersebut diatas semoga acara mengenang sejarah dan biografi dapat menjadi suri tauladan, dan lebih memaknai acara “Haul”. 
Itulah seklias dari sejarah dan biografi Raden Aersadan yang mendorong hasrat keluarga Trah Kromodjayan – Kanoman untu mengenang kembali jasa-jasanya, disamping itu mengirim doa untuk beliau. Dengan segala kerendahan hati keluarga, pada kesempatan ini kita menyampaikan hormat dari lubuk hati yang dalam dan penghargaan setinggi-tingginya atas perhatian, dukungan Bapak Bupati, beserta jajaran dan para Alim Ulama, masyarakat Mojokerto dalam memuliakan dalam doa bagi para tokoh pendahulu Kota Mojokerto yang berkesambungan acara ziarah pada hari jadi Kota Mojokerto, sampai dengan acara  mengenang sejarah dan biografi Raden Aersadan bertajuk “Haul”.
    Akhirul kata seluruh keluarga dan family sedarah Kromodjayan sekali lagi menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga, atas keiklasan kehadiran Bapak/Ibu; serta bantuan moril / spiritual atas terselenggaranya acara ini, sekiranya jika ada tutur kata ataupun kekurangan / kekhilafan dalam penyelenggaraan acara ini, kami atas nama  panitya penyelenggara dan keluarga menyampaikan mohon maaf.

Wabillahi taufik walhidayah Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
                                                                                         Mojokerto, 13 Mei 2012



 Biografi  Raden Aersadan

Raden Aersadan pertama kali menjabat Bupati di Lamongan berdasarkan, dengan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 20 September 1863, No:6,  s/d Th.1866. Dan kemudian sejak besluit dari Gouverneur Generaal  tanggal 24 Desember 1866, No:5, Raden Aersadan dipromosikan menjadi Regent / Bupati Mojokerto;


Raden Aersadan dilahirkan di Surabaya, beliau adalah putera dari  Raden Bagus Anom, Bupati Pertama Surabaya, jumeneng Bupati nama gelar : Raden Ngabei Kromodjoyo Adinegoro II, dalam masa pemerintahannya Th.1839, s/d Th.1859.
Raden Bagus Anom surut / wafat pada Th.1861, dimakamkan di belakang Masjid Sunan Ampel Surabaya. Raden Aersadan adalah putra ke 5 (lima) dari 24 (dua puluh empat bersaudara), dari pernikahan Raden Bagus Anom dengan isteri kedua, adalah sebagai beriut :

1. Isteri Pertama : Puteri asal dari Madura (nama tidak tercatat) menurunkan :
   1.1. Raden Sugiri, beliau wafat dalan usia muda..

    2.1. Raden Ayu Rukminah;
    2.2. Raden Aerali, jumeneng Bupati nama gelar Raden Adipati Kromodjoyodirono II, beliau           
           menjabat Bupati :
          1). Bupati Surabaya, Th. 1859 s/d Th. 1863; kemudian 
          2). Bupati Lamongan, Th. 1866 s/d Th. 1885.
               Wafat Th. 1886 dimakamkan di belakang Masjid Ampel Surabaya.
    2.3. Raden Ayu Arpisah.
    2.4. Raden Aersadan / R.A.A. Kromodjoyo Adinegoro III;
    2.5. Raden Aeruto. Jumeneng nama gelar Raden Bei Djoyowinoto.
2. Isteri Kedua : Raden Ayu Warinah binti Kyai Kabul Singomenggolo (asal Pamekasan-Madura), menjabat Demang di Singkil-Sidoarjo; Gelar nama Raden Ayu Warinah disebut juga Mas Ajeng Sepuh, menurunkan :

3. isteri Ketiga : Puteri dari Kyai Demang Serujo di Sidoarjo, menurunkan :
   3.01. Raden Isnu;
   3.02. Raden Rusman, Asisten Wedana di Gatul – Mojokerto;
   3.03. Raden Bei Tirtokusumo;
   3.04. Raden Bei Kromodjoyo Adiredjo, Patih di Pemalang (Jawa Tengah);
   3.05. Raden Bei Suryoadiputro;
   3.06. Raden Ayu Hendrokusumo;
   3.07. Raden Ajeng Naemah;
   3.08. Raden Hairun;
   3.09. Raden Ngabei Kromodjoyo Adiwinoto, nama kecil Raden Mahmud
   3.10. Raden Tegal ( Pak Ragemi );
   3.11. Raden Ajeng Samaniah;
   3.12. Raden Nasuran / Raden Kromolengsong;
   3.13. Raden Nasarun / Raden Kromopeci / Raden Kromokintel;
   3.14. Raden Ajeng Samanidjah

4. Isteri ke empat: Mas Ajeng Anom, binti Raden Adipati Arya Tjokronegoro, di Kartosuro,
    menurunkan :
    4.01. Raden Nasipun;
    4.02. Raden Ayu Rukminten, dan
    4.03. Raden Ayu (isteri dari Mas Panji Soemodinoto / Abdul Kadir, onder collecteur Surabaya.
( Silsilah Trah Kromodjayan terlampir ).

A.   Pohon Keluarga (Family Tree)
Ditinjau dari garis keturunan atau disebut leluhur beliau Raden Aersadan masih dalam ranting
pohon keluarga Mojopahit yaitu dari putera Sang Prabu Brawijaya (Raja Hindu terakhir) Bhre
Pandansalas Th.1466-1478. Berdasarkan “Serat Darah” bawa Sang Prabu putera yang ke 11
dari 117 putera puterinya bernama Raden Jaka Sudjanma, jumeneng Adipati nama gelar
Pangeran Adipati Surolegowo Adipati di Blambangan (sekarang Banyuwangi) mijil (lahir) dari Ibu
Pengrembe. Dalam sejarah dikenal dengan nama  Panembahan Bromo atau Lembu Niroto,
menurunkan, Arya Simbar (Adipati Blambangan), menurunkan Arya Puger, menurunkan Menak
Sumende, menurunkan Menak Gedru, menurunkan Menak Werdati, menurunkan Menak Lapat,
menurunkan Menak Lumpat, menurunkan Menak Koncar, menurunkan Arya Panji Malang /
Ki Ageng Gribig, menurukan Arya Pamucang, menurunkan Dermoyudo I, Dermoyudo II,
Dermoyudo, III, Dermoyudo IV, menurunkan Mas Pekik / Kromowijoyo (Dermoyudo V)                 
menurunkan                                                                                                   
>> Raden Bagus Glundung / RadenTumenggung Kromodjoyodirono ( Bupati Government
     Surabaya pertama Th.1819-1825), menurunkan Raden Tumenggung Kromodjoyoadinegoro,
>>Raden Bagus Anom, menurunkan Raden Aersadan jumeneng Bupati nama gelar:
    R.Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro III. (lihat diagram silsilah).


Keturunan dalam satu ranting pohon keluarga disebut pula kesatuan keluarga sedarah, dan dikenal dengan nama “Trah”; Dan bagaimana halnya riwayat nama sebutan “Trah Kromodjayan – Kanoman” ?   Awalnya dalam sejarah Kabupaten Surabaya yang memangu jabatan Bupati Surabaya adalah Adipati Djangrono II, beliau membawahi 20(dua puluh) Tumenggung, sebagian Jawa-Timur dan Madura Barat; Wafat diperdayakan VOC di Kartosuro Th. 1709, karena diketahui membantu perjuangan Untung Suropati / Raja di Pasuruan yang memberontak VOC. Sepeninggalan beliau wilayah Kabupaten Surabaya kekuasaannya diperkecil dengan membagi menjadi 2(dua) Kabupaten yaitu :


      Kabupaten Kasepuhan Surabaya, dipimpin Kyai Tumenggung Arya Djoyopuspito putera Djangrono I / memberontak VOC dibuang ke Kamp de Goule Hoop – Afrika selatan. (De Jonge deel VIII). Dan keturunannya sampai dengan Kyai Tumenggung Tjondronegoro, bin Kyai Onggodjoyo, Bupati Pasuruan 1678-1686.


•     Kabupaten Kanoman Surabaya, dipimpin Tumenggung Djangrono III ( R.Ng.Wiryodirdjo ). Menurunkan  Kyai Tumenggung  Djoyodirono I, Bupati Kanoman Surabaya 1752-1769.
Mempunyai puteri bernama Nyai Ajeng Tjetjek menikah sebagai isteri pertama dengan Raden Tumenggung Kromowidjoyo (Dermyudo V), setelah surut / wafat dimakaman di Pesarean Bibis Surabaya, (sebelah barat Setasiun KA Semut / belakang Masjid ); sedangkan Nyai Ajeng Tjetjek; Sesuai wasiatnya dimakamkan di Pesarean Boto Putih. Dari pernikahan ini mennurunkan putera sebanyak 17 anak.
  • Dari perjalanan riwayat diatas, kita telah mengenal nama tetenger (identitas) dari: 
  • Wilayah leluhur dari pancer Kanoman Surabaya,
Nama pesarean yaitu Kromodjayan, yang ada di Surabaya, Mojokerto, dan Sumenep Terlahirlah
nama keturunan sedarah yang lebih dikenal yaitu “Trah Kromodjayan – Kanoman”. Contoh
keadaan ini adalah pada nama pesarean keluarga Kromodjayan yang dibangun oleh Raden
Aersadan dan diberi tetenger yang ditulis dalam prasasti Pesarean disebut “Sentono Asri” di
desa Losari, Terusan – Mojokerto, menjadi dikenal Pesarean “Kromodjayan-Kanoman”. 
Sedangan dari pernikahan Raden Tumenggung Kromowidjoyo (Dermyudo V)  yang kedua dengan seorang putri yaitu tidak disebut namanya, memperoleh keturunan sebanyak 8 orang putera-puteri. Dan mereka dikenal dengan nama keturunan sedarah “ Trah Kromodjayan”. ( sumber R.B.Yasin / R.Ngabei Kromodjoyoadirono )

B.   Riwayat Kerja
               Riwayat kerja Raden Aersadan saat menjalankan roda pemerintahan di Mojokerto dengan segala keberhasilan sampai jumeneng Bupati, telah kita saksikan bersama bahwa beliau telah menuai predikat dan gelarnya dalam karya masa kejayaannya; Karya beliau tertulis dalam sejarah yang diabadikan oleh para family, putera dan cucu, disamping monument hasil karya sebagai bukti pengabdiannya kepada rakyat dan agama yang telah terukir begitu indah, adapun penulis riwayat kerja tsb. oleh :

       Raden Tumenggung Notodiningrat, Regent van Malang
     ( di tulis di Malang, pada tanggal: 30 September 1875 );


       Raden Adipati Arya Kromodjoyo Adinegoro IV, voor eensluidend afschrift De Oud Regent van Mojokerto (diulis di Mojokerto pada tanggal 10 Februari 1889, & tanggal 15 eptember 1923.


       Asli dokumen disimpan Raden Tjandoko, putera ke 7 dari 10  Orang putera puteri Raden  Bagus Mas Suwoso / R Ngabei Kromodjoyoadiprodjo.


Berawal dari riwayat pengalaman Raden Aersadan yang berada di Surabaya, beliau adalah putera Raden Ngabei Kromodjoyo Adinegoro II nama kecil adalah Raden Bagus Anom, sebagai Bupati Surabaya Th.1831-1859 dan dimasa itu dibawah Pemerintahan Hindia Belanda, dan pejabat Belanda saat itu disebut Kanjeng Gouverment (Januari  1849 s/d. Nopember 1857); yang meliputi seluruh wilayah Jawa Timur, diantaranya mewilayahi Kabupaten Mojokerto.
 Raden Aersadan mendapatkan kesempatan magang / dididik diikut sertakan dalam kegiatan pemerintahan dengan harapan dengan cara ini, dapat memperoleh pengetahuan praktis kerja dan akan lebih memahami pekerjaan ayahnda dalam kedudukannya sebagai Regent (Bupati)  Surabaya.
Tepatnya beliau magang kerja pada tanggal 28 Augustus 1855 sampai tanggal 9 December 1855 di lingkungan wilayah kerja Bupati Surabaya,
Saat itu Pemerintah Hindia Belanda menempatkan pegawai tinggi Hoofd Ingenieur dari Waterstaat yaitu tuan H. de Bruyn;


1.    Kilas balik Raden Aersadan dari awal karyanya adalah ikut serta dalam pola Induk / rencana kerja Pemerintahan Gouverneur Generaal (G.G.) hasil catatan kedua beliau tersebut diatas, adalah sbb:
1)   Pada tanggal 18 Juli 1855, Raden Aersadan ikut serta dalam rombongan yang melaksanakan inspeksi ke saluran irigasi, dimulai dari Kabupaten Malang-Residenctie Pasuruan, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Brebek-Residenctie Kediri dan Mojokerto-Residenctie Surabaya;
Perencanaan irigasi tersebut agar aliran sungai semua bermuara ke Sungai Brantas, dan akan dibuat Sluis Lengkong (Dam Air Lengkong) yang kemudian akan dijadikan pengaturan pembagian aliran sungai dan selokan dalam Kota Surabaya, dan Landstrek Sidoarjo (saat itu masih termasuk wilayah Kabupaten Surabaya). * terlampir photo
Dam air Lengkong tersebut dikenal dengan nama “Rolak Songo” terletak disebelah timur utara kota Mojokerto. Banguna lama untuk mengatur irigasi persawahan dan pengaturan saluran pengairan kota Mojokerto masih dilestarikan sebagai peninggalan barang-barang jaman kuno.

2)   Dalam pola Induk / rencana kerja tsb.diatas, yang bertanggung jawab sepenuhnya adalah Regent Surabaya yaitu Raden Ngabei Kromodjoyo Adinegoro II, karena ditunjuk sebagai pimpinan pelaksananya. Dan seklaigus membuat peratuan pengairan Dam Lengkong diatas; Pola induk telah dibuat blue-print / kaart(denah) irigasi dan semuanya disampaikan untuk pertanggung jawaban kepada
(1)        Kepala wilayah (Bupati) tsb. Diatas;
(2)        Hoofd Ingenieur adalah tuan H. de Bruyn, dari Waterstaat, dan
(3)        Resident Surabaya.

3)   Pada tanggal 22 Agustus 1834, Raden Aersadan mendapat tugas dinas, mendampingi perjalanan dinas Gouverneur Generaal, tuan J.E.Baud, ke Pakis dengan kendaraan kuda; Dan meluangkan waktu memeriksa “Candi Jago”; Sepulangnya berkendaraan naik kereta, namun kanjeng Bupati tetap berkuda; Diperjalanan enam kuda penarik kereta terlalu kencang sehingga roda kereta terperosok dibibir jurang yang dalam, namun kesingapan RAA Kromodjoyo Adinegoro III dapat menyelamatkan kereta sehingga peristiwa ini selalu diingat Gouverneur Generaal dan sangat berterima kasih atas pertolongannya menyelamatkan jiwanya.

4)   Pada tahun 1860 berdasarkan pola induk / rencana kerja G.G., di wilayah Resident Pasuruan, Raden Aersadan ditunjuk sebagai pimpinan pembuatan bendungan di Lawang, yaitu di sungai Surak dan Sungan Bendo, distrik Karanglo; Sampai dengan selesainya bendungan tersebut dapat berfungsi mengairi persawahan di Kabupaten Pasuruan, untuk meningkatkan pendapatan dari produksi sawah seluas 500 bau.

5)   Pada tahun 1860 berdasarkan pola induk / rencana kerja G.G., di wilayah Resident Pasuruan, Raden Aersadan ditunjuk sebagai pimpinan penguatan jalan raya wilayah regent Schap Pasuruan ( diluar bagian regent Malang). Pengerjaan jalan raya sepanjang 1560 ello, dengan menutup dua jurang besar, pajang 410 ello, dalam jurang 15-20 ello.

6)   Pada tahun 1863 berdasarkan pola induk / rencana kerja G.G., di wilayah Resident Pasuruan, Raden Aersadan ditunjuk sebagai pimpinan pembuatan bendungan di Kali Metro, distrik Sengoro. Tepatnya pada 12 Desember 1863, terjadi musibah retaknya bendungan saat dibuat karena cuaca hujan deras dimalam hari; Dan keesok harinya Raden Aersadan sempat menyaksikan sendiri jebolnya bendungan, dan saat terjadi persitiwa itu beliau telah memimpin langsung dan dapat menyelamatkan 1500 orang pekerja karena sebelum pecahnya bendungan terjadi Raden Aersadan telah merasakan getaran tanah yang hebat, dan kemudian memerintahkan 1500 pekerja untuk naik keatas meneyelamatkan diri.

 2. Pada tahun 1881 Wilayah Kabupaten Mojokerto, dibagi menjadi 2(dua) wilayah kerja (afdeeling) adalah : Mojokerto dan Jombang; namun dalam tata adminitrasi dan pekerjaan masih dalam pengawasan dan tanggung jawab Bupati Mojokerto,
Dalam agenda pribadi Raden Mashudan / Raden Adipati Aryo Kromodjoyo Adinegoro IV ( putera pertama R. Aersadan), menuliskan bahwa :“ Semua sluis-sluis dan bendungan untuk pembagia irigasi persawahan dalam wilayah kerja / afdeeling Mojokerto, dan Jombang, adalah buah karya R.A.A. Kromodjoyo Adinegoro IV / R.Aersadan; Sehingga pemasukan hasil pajak meningkat sampai masa dalam pemerintahan R.Mashudan.” Namun kemudian sluis-sluis dan bendungan diambil alih oleh jawatan irigasi pemerintah hindia Belanda. 

3.  Riwayat Kerja R.A.A.Kromodjoyo Adinegoro III /R.Aersadan selama kurang lebih 48 ( empat  puluh delapan tahun) adalah sebagai berikut :
 1)  Berdasarkan besluit Resident Surabaya tanggal: 23 November 1857, No:5827/25i diangkat mejandi “Bekel” distrik Jenggolo; Distrik nomor satu se-Kabupaten Sidoarjo (Surabaya);
 2)  Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 13 Juli 1859, No;10 diangkat menjadi “Wedono” distrik Jaba(luar) Kota Kabupaten Surabaya.
 3)  Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 20 September 1863, No:6, mendapatkan gelar pangkat menjadi “Regent Kabupaten Lamongan-Surabaya;
 4)  Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 25 Oktober 1863, No:22 mendapat gelar kehormatan nama yaitu : “Raden Tumenggung Kromodjoyo Adinegoro”.
  5).Berdasarkan besluit dari Sri Paduka yang dipertuan besar Gouverneur Generaal, tanggal 24 Desember 1866, No:5, mengalih tugaskan/promosi jabatan menjadi Regent/Bupati Mojokerto-Surabaya; Dalam besluitnya diperoleh tunjangan (peruntungan percent) kopi dan gula.
6). Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 28 Oktober 1873, No:15, mendapat gelar pangkat nama “Adipati”; Tercatat dalam tahun 1880 aturan lama dicabut, diganti  dengan aturan baru dengan penambahan “Gaji” .
7).Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 20 Agustus 1888, No;16, menerima ganjaran kehormatan untuk memakai “Songsong Kuning” /”Payung berwarna Emas”, berkenaan dengan penghargaan masa kerja selama 25 tahun tanpa terputus sejak 20 September 1863 s/d 20 September 1888.
8). Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 05 September 1893, No: 26, menerima ganjaran kehormatan dengan predikat gelar yaitu “Ario”/”Arya”.
9). Pada angal 16 – 17 September 1894, R.A.A. Kromodjoyo Adinegoro III / R.Aersadan wafat saat menunaikan kerja / dalam dinas;
10). Berdasarkan besluit dari Gouverneur Generaal Hindia Belanda, tanggal 15 Oktober 1894, No:3 Raden Mashudan diangkat menjadi Bupati Mojokerto menggantikan ayahnda Raden Aersadan.


4. Riwayat dalam melaksanakan syiar agama Islam Raden Aersadan mewarisi sifat/qarater ayahnda Raden Bagus Anom Kromodjoyo Adinegoro II, yaitu mengutamaan syiar Agama Islam, dan ditulis dalam riawayat bahwa didalam kehidupan sehari-hari sangat dekat dengan para alim ulama, dan beliau termasuk jajaran Imam Besar masjid Ampel Surabaya, salah satunya yaitu rutin memberikan chotbah sholat Jum’at. Masyaakat Surabaya memberikan julukan nama Kanjeng Genteng, Dan rumah dinas beliau sekarang dikenal dengan gedung Kebudayaan Surabaya (sebelah timur Siola/utara pasar Genteng).                                
Demikian halnya Raden Aersadan sebagai putra, telah mewarisi sikap hidup ayahnda yang selalu mengutamakan syiar Agama Islam, dengan caranya sendiri banyak mewakafkan tempat peribadahan yaitu berupa Masjid. sebagai hal yang tercatat dalam riwayat beliau saat memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang;
Adapun wakaf beliau sebagai karya dalam menyiarkan Agama Islam, dengan mendirikann masjid / tempat ibadah.
Peningalan ini sampai saat ini masih berfungsi dan mengalami perkembangan baik dai fungsi tempat ibadah, sampai dengan pendidikan, sampai dengan usaha bimbingan Haji & Umroh. Perlu kita sampaikan karena perubahan jaman dan umur Masjid yang melebihi usia 100 tahun, banyak masyarakat mewakafkan tanah sekitar masjid untuk keperluan perluasan masjid. Dari bangunan lama ( kubah masjid bentuk stupa limasan ) masih dipertahan kan, sedangkan tambahan baru bangunan masjid tidak merubah bangunan lama.

Prasasti yang masih dapat dilihat adalah di masjid yang terletak di Perak-Jombang, dan di Gemek Sooko, Mojokerto berupa papan dengan tulisan aksara jawa, arab dan latin.


  • Di Wilayah Kabupaten Mojokerto :
   Sejarah berdirinya Masjid Agung didapatkan koran ini dari kutipan surat almarhum Mohammad Thohar. Ia adalah soerang panitera PN yang juga selaku PKM (Pengurus kas masjid).

Adapun berdasarkan surat tersebut, beberapa rinciannya sebagai berikut. Sebagaimana Masjid Jamik di Desa Gemekan Kecamatan Sooko, Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro berserta bawahannya, yang meliputi asisten wedono, camat-camat dan lainnya.

Peletakan batu pertama dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1795 H.

Empat sooko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter (tanpa sambung) yang sampai sekarang masih kokoh berdiri ini didapatkan dari Hutan Jabung. Dan, soko guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu.


Pada 1 Mei 1932, masjid ini mengalami renovasi untuk kali pertama oleh Pendiri Comite Lit atau panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan oleh M.Ng Reksoamiprojo, bupati IV - V pada 7 Oktober 1934.

Selanjutnya pada 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas lagi oleh R Sudibyo, wali Kota Mojokerto dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Perluasan ini dilakukan karena masjid sudah tidak bisa menampung jumlah jamaah yang meluber.

Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati RA Basuni juga melakukan perluasan. Peresmian juga dilakukan pada tahun yang sama dibarengkan dengan peringatan 17 Agustus 1989.

Ternyata, setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini tidak memiliki nama. KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jamik Al Fattah.

Kemudian, pada 4 April 1986 ini, masjid Jamik Al Fattah dipugar oleh Wali Kota Mojokerto Moh Samiuddin sebagai pembangunan tahap I. Kemudian dilanjutkan dengan pemugaran tahap II yakni di lokasi sebelah timur atau depan masjid. Selanjutnya, pada masa pemerintahan wali kota ini pulalah istilah Masjid Jamik diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.
(radar mojokerto : http://jawapos.co.id)
     3). Masjid “Al-Musthofa” di desa  Losari, Terusan, Mojokerto3).


§    Di Wilayah Kabupaten Jombang :
        Masjid Jami “Baitul Amin” di desa Perak, Jombang; Peletakan batu pertama pada hari Ahad, Pon tgl: 11 Oktober 1891

§    Di Wilayah Kabupaten Lamongan :
          Masjid "Agung" Kota Lamongan, yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota Lamongan.
  •   Spesifikasi Masjid yang dibangun Raden Aersadan 

5. Hasll karya Raden Aersadan bersama ayahnda Raden Bagus Anom Kromodjoyo Adinegoro II/ Regent Surabaya, dimulai dari perencanaan dan pelaksanaan membangun Sluis Lengkong (Dam Air Lengkong / “Rolak Songo” yang terletak disebelah timur utara kota Mojokerto) diharapkan dapat dijadikan pengaturan pembagian aliran sungai dan selokan dalam Kota Mojokerto, Surabaya, dan Landstrek Sidoarjo (saat itu masih termasuk wilayah Kabupaten Surabaya) dalam photo sebagai berikut :.


PERKEMBANGAN BANGUNAN MASJID TAHUN 2013
 Masjid Jami “Baitul Amin” di desa Perak, Jombang;

Sebelum dipugar



Bentuk bangunan setelah dipugar (tampak depan dari Timur halaman) 



 Tampak depan Masjid tampak bangunan dari utara jalan raya

 Pintu utama masuk masjid dari tampak timur

Ruang bawah dan penambahan ruang atas 

 Prasasti (asli) pembangunan Masjid oleh R. Aersadan, berupa balok blandar panuwun, terpasang dan diletakan paling atas ( warna cerah ), dan kemudian prasasti saka (baru) dari Alim ulama masjid dan masyarakat, pemerintahan yang pernah memugar 
masjid Jami "Batitul Amin" Perak-Jombang

Ruang atas dalam penyelesaian tahap akhir 

 Ruang pengimanan dilihat dari lantai atas

 Papan prasasti pemabngunan Masjid Jami Baitul Amin oleh R Aersadan, tetap dipasang di lantai atas

Tampak teras masjid Jami Baitul amin sebelah utara.  
 
 
Di up load kembali 07012021